Mendidik Sifat Baik Pada Anak

Mendidik Sifat Baik Pada Anak

Orang tua bertanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala tentang pendidikan dan pembinaan anak-anak mereka. Bila orang tua telah mengemban tanggung jawab itu dengan baik, semua akan berbahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya, bila orang tua mengesampingkannya, anak akan menghadapi kondisi buruk dan orang tuanya akan menanggung beban dosa atas kelalaiannya itu. Salah satu aspek penting dalam perkembangan anak, adalah pembinaan moral mereka.

Pembinaan akhlak anak-anak mesti dilakukan sejak dini supaya kecenderungannya dalam menyukai kebaikan tetap terjaga. Dengan itu, anak-anak akan menjadi insan-insan terpuji nantinya, dan sumber kebahagiaan dan ketenangan orang tua mereka serta mendatangkan kebaikan bagi mereka, di dunia sebelum di akhirat. Jadi, mendidik anak termasuk amalan shaleh yang dapat digunakan oleh orang tua untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan pahalanya akan mengalir terus-­menerus sebagaimana sedekah jariyah

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Jika seorang anak Adam meninggal, ia akan putus dari seluruh amalannya kecuali tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya."
(HR. Muslim)

Yang perlu digarisbawahi disini, bahwa Islam telah mengajarkan seluruh akhlak yang baik. Bahkan seluruh ajarannya memang berbasis perbaikan akhlak manusia secara menyeluruh.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :"Aku diutus untuk menyempurnakan akhak "
(HR. Ahmad)

Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, ”Sesungguhnya Islam adalah agama akhlak. Siapa saja yang menambahi akhlak kepadamu, maka ia sudah menambahi agama bagimu”.

Karena itulah, kaum Muslimin benar-benar tidak membutuhkan teori-teori pendidikan produk bangsa Barat, yang notabene mereka adalah kaum yang tidak beriman kepada Allah Ta’ala dan tatanan kehidupan moral mereka pun sudah berantakan. Apa yang diharapkan dari bangunan yang sudah rusak ?


TIGA SIFAT PENTING BAGI ANAK

Budi pekerti luhur yang diajarkan Islam. sangatlah banyak, sehingga tidak mungkin dibatasi karena rinciannya begitu luas. Untuk itu, sangat perlu mengedepankan penanaman sifat-­sifat mulia yang terpenting yang seyogyanya melekat pada seorang anak dalam kehidupannya secara individu maupun sosial sehingga mereka lebih terarah menuju kondisi-kondisi yang baik.

Di antara sifat terpenting itu adalah:

1) SIFAT JUJUR

Kejujuran, salah satu sifat terpenting dalam kepribadian seorang anak dan sekaligus nantinya akan menjadi pertanda keimanannya. Pasalnya, kejujuran (ash-shidqu, Arab) lawan dari berdusta (al-kadzib) yang merupakan salah satu karakter menonjol orang-orang munafik.

Allah Ta’ala memerintahkan berkata jujur dan melarang kedustaan. Allah Ta’ala berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (QS. At-Taubah / 9:119)

Merekea orang-orang yang benar dalam perkataan, perbuatan dan kondisi.[2]

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :"Tanda orang munafik ada tiga ; jika berbicara ia berdusta, jika ia berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat"
(HR. al-Bukhari)

Keluarga Muslim bertanggung-jawab penuh dihadapan Allah Ta’ala untuk mengambil peran utama dalam menanamkan sifat jujur dan seluruh akhlak yang terpuji pada kepribadian semua anggota keluarganya, baik yang dewasa maupun yang masih kanak-kanak. Pasalnya, sifat terpuji ini (kejujuran) salah satu faktor utama yang mendatangkan ketentraman hidup dalam rumah dan keindahan akhlak serta keteguhan perilaku yang baik lainnya.

Hubungan antar komponen dalam satu keluarga mengharuskan mereka membiasakan hidup jujur dalam setiap ucapan dan perbuatan, siapapun dia, besar ataupun kecil. Menjadi kewajiban orang-orang yang sudah dewasa untuk menjadi cermin yang baik bagi anak-anak.

Anak akan terpengaruh dengan orang dewasa yang ada disekitar mereka, terutama dalam rumah yang mereka huni. ”Perkara baik dalam pandangan anak-anak adalah yang engkau (orang tua / guru) lakukan. Dan perkara buruk (menurut mereka) adalah yang tidak engkau lakukan”[3].

Oleh sebab itu, Islam memperingatkan agar orang tua (pendidik) tidak mencoba berdusta di hadapan anak-anak yang masih dalam fitrahnya itu. Tujuannya, agar mereka tumbuh dan berkembang dalam naungan pembinaan yang baik. Di saat sebagian orang tua meremehkan masalah ini dengan tidak sejalannya perkataan yang didengar anak-anak dengan perbuatan yang dilakukan orang tua, dan membuai mereka dengan ‘obralan’ janji `kosong’ agar mau taat, mendengar dan tidak membangkang.

Apakah pembinaan seperti ini tepat? Kedustaan itu apakah bukan dosa?

Cara mendidik dengan kedustaan ditentang oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tetap menganggapnya sebagai perbuatan dosa. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barangsiapa berkata kepada seorang anak kecil, ”Kesini, ambillah (ini)”, kemudian tidak memberinya apapun, itu adalah kedustaan
(HR. Ahmad dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah dalam ash-Shahihah no. 748).

Dalam hadits lain yang memperkuat makna hadits di atas, dari hadits Abdullah bin Amir ra. Rasulullah mendatangi rumah kami, saat aku masih kecil. Aku keluar untuk main-main. lbuku berkata, “Abdullah, sini, lbu mau memberimu (sesuatu)”. Rasulullah bertanya (kepada Ibuku), “Apa yang akan engkau berikan kepadanya?”. Ibu menjawab, “Kurma”. Kemudian Rasulullah berkata, “Jika engkau tidak memberinya apapun, niscaya itu satu kedustaan bagimu”.
(HR. Ahmad)

Melalui dua hadits di atas, sudah jelas, bahwa apa yang dipraktekkan sebagian orang tua terhadap anak-anak mereka dengan menjanjikan sesuatu padahal tidak berniat untuk memberikannya kepada sang anak, hanya agar anak mau taat dan mendengar perintah dan larangan orang tua, atau sekedar mau masuk rumah, termasuk kedustaan yang harus dijauhi setiap Muslim.

Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullah mengatakan, “(Kewajiban orang tua) Membiasakan anak-anak untuk jujur dalam ucapan dan perilaku mereka dilakukan dengan cara kita (orang tua) tidak berdusta kepada anak-anak meski saat bercanda dengan mereka, jika kita (orang tua) menjanjikan mereka (sesuatu), maka kita (orang tua) harus memenuhinya”.[4]

Dengan melekatnya sifat jujur pada anak, akan terbentuk insan-insan yang selalu berbuat ikhlas, tidak suka cari muka, jauh dari niat buruk dan selalu berkata benar.

2) SIFAT AMANAH

Sifat ini sangat tinggi dan penting kedudukannya dalam Islam dimana al-Qur’an menyebutkan bahwa amanah mencakup seluruh aspek perintah dan larangan dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman :"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya." (QS. An-Nisa / 4:58)

Amanat adalah segala hal yang dipercayakan kepada seseorang dan ia dituntut untuk menjalankannya. Allah memerintahkan untuk menjalankannya dengan sempurna. Termasuk dalam makna amanat ialah amanat memegang kekuasaan, kekayaan atau rahasia dan lainnya. Orang yang diserahi amanat untuk mengemban sesuatu, maka harus wajib memeliharanya dengan baik, karena amanat tidak bisa dijalankan kecuali dengan cara memeliharanya.[5]

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman :"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dn (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui"
(QS. Al-Anfal / 8:27)

Kejujuran termasuk bagian dari amanah dan pelengkapnya. Hal ini dapat diketahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan antara amanah dan kejujuran dalam hadits sebagai sifat seorang Mukmin, dan dua sifat yang bertolak-belakang dengannya (dusta dan khianat) termasuk tanda nifak.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :"Tanda orang munafik ada tiga ; jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat."
(HR. al-Bukhari)

Atas dasar itu, menjadi kewajiban orang tua untuk membiasakan diri mereka dan anak-­anak untuk menjaga amanah dan memperingatkan mereka dari khianat dan dampak buruknya. Termasuk memerintahkan mereka untuk menjaga hak-hak orang dan barang milik mereka yang mereka temukan di tengah jalan, meskipun harganya tidak seberapa dalam pandangan kita.

Orang tua harus mendidik anak-anak agar tidak punya keinginan untuk memiliki barang milik orang lain sekalipun berada di tengah jalan tanpa diketahui pemiliknya. Justru sebaliknya mengajak mereka untuk mencari pemiliknya sedapat mungkin. Ini akan menggoreskan pelajaran mendalam pada jiwa anak dikemudian hari untuk tidak pernah berharap memiliki barang milik orang lain apalagi sampai mengambilnya dengan cara-cara yang haram.

3) MEMBIASAKAN LISAN MEREKA UNTUK BERKATA-KATA YANG BAIK SAJA

Mendidik anak untuk hanya berkata-kata yang baik dan menjauhi ungkapan-ungkapan buruk bagian dari akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam melalui al-Qur’an dan Hadits.

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghubungkan antara keimanan dan ucapan baik yang keluar dari mulut seseorang dalam sabdanya : "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau diam (saja)."
(HR. al-Bukhari)

Orang tua yang hendak mendidik anak untuk menjaga lisan dari celaan, umpatan, dan kata-kata kotor lainnya, maka harus menempuh empat cara :
  1. Orang tua terlebih dulu harus menjauhi ucapan-ucapan yang buruk secara mutlak. Sebab, mereka itulah cermin dan teladan bagi anak-anak. “Sesungguhnya indahnya kepribadian pendidik dan kedua orang tua di depan anak-anak adalah bentuk tarbiyah (pendidikan) yang terbaik”.[6]
  2. Mengajarkan anak-anak dan mengingatkan mereka dengan ayat-ayat al­Qur’an dan Hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajak untuk menjaga lisan dari ucapan-­ucapan yang tidak baik, setiap kali mereka membutuhkan peringatan.
  3. Melakukan pengingkaran saat anak-anak mengeluarkan kata-kata yang buruk dan tidak senonoh.
  4. Memilihkan teman pergaulan yang baik dan menjauhkannya dari teman pergaulan yang buruk, agar anak-anak terjaga dan terlindungi. Maka, menjadi kewajiban orang tua untuk mengawasi teman-teman pergaulan anak-anak mereka dan memperingatkan anak­-anak jangan sampai berkawan dengan orang-­orang yang berperilaku buruk. Ibrahim al-Harbi rahimahullah mengatakan, ”Kerusakan pertama pada anak terjadi karena kawannya”. (Dzammul Hawa, Ibnul Jauzi rahimahullah).

ANAK-ANAK HARUS DIJAUHKAN DARI BENIH-BENIH PENYIMPANGAN

Menjadi tugas dan tanggung-jawab orang tua untuk menjauhkan anak-anak dari benih-benih penyimpangan. Man syabba ‘ala sya’in syaba ’alaih demikian bunyi pepatah Arab yang bermakna siapa yang tumbuh dengan pola hidup tertentu, maka ia akan terbiasa dengan itu di masa tuanya.

Maka, mata rantai penyimpangan hendaknya diputus sejak dini pula. Kelahiran anak yang merupakan salah satu pengaruh adanya sebuah perkawinan yang sah menjadi amanah bagi kedua orang tuanya. Secara rill, pelaksanaan amanah ini di antaranya dengan mendidik mereka dengan ajaran-ajaran Islam dan mengajarkan mereka hal-­hal yang mereka butuhkan dalam urusan agama dan dunia mereka. Selain itu, juga mengembangkan kepribadian mereka dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik serta menjaga mereka dari teman-teman yang buruk dan pergaulan yang membinasakan.[7]Orang tua yang kurang perhatian atau melalaikan kewajiban mentarbiyah anak-anak mereka telah berbuat dosa dan bermaksiat kepada Allah Ta’ala.[8]

Bila anak sudah terlanjur menyimpang dan menyenanginya, tinggallah orang tua pusing memikirkan bagaimana cara mengembalikan anak-anak buah hati mereka itu ke jalan yang lurus. Di saat itulah, penyesalan saja yang akan terjadi.

Sebagai penutup, mari kita simak nasehat Syaikh ‘Abdul Muhsin al-Qasim, imam dan khatib Masjid Nabawi kepada para orang tua, “Jadikan perhatianmu yang baik terhadap tarbiyah anak-anak dan keikhlasanmu untuk itu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Bergembiralah dan selalu berharap baik, serta manfaatkan apa yang engkau miliki berupa doa yang mustajab bagi anak-­anakmu. Mendoakan anak termasuk kebiasaan para nabi. Nabi Ibrahim berdoa: “Dan jauhkanlah diriku dan anak-anakku dari menyembah berhala­berhala”

(Ingatlah) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Ada tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tidak diragukan doa itu : doa orang tua bagi anaknya, doa musafir, dan doa orang yang terzholimi”[9]

Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kaum Muslimin dalam mendidik keturunan mereka sesuai dengan petunjuk Islam. Wallahu a’lam

Diangkat dari al-Mar’atu Ra’iyatun fii Baitiha Da’iyatun, DR. Ahmad bin Muhammad Aba Buthain him. 17-21dengan beberapa tambahan referensi seperti tercantum pada catatan kaki.

Ustadz Abu Minhal

catatan kaki :
[1] Hirasatul Fadhilah hlm. 107

[2] Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 371

[3] At-Taujihat al-Silamiyyah li Ishalahil Fardi wal Mujtama’ hlm. 33

[4] Ibid. hlm. 35

[5] Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 171

[6] At-Taujihat al-Islamiyyah li Ishlahil Fardi wal Mujtama’ hlm. 33

[7] Silahkan lihat pernyataan Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam Hirasatul Fadhilah hlm. 105

[8] Hirasatul Fadhilah hlm. 107

[9] Al-Khuthabul Minbariyyah, Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim, 1/176-177 dengan tema khutbah Tarbiyatul Aulad

Sumber: Majalah As Sunnah (Rubrik Baituna) edisi 11/thn. XIV/Rabiul Tsani 1432H/Februari 2011 - Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari


Kumpulan Soal-Soal TES CPNS 2014 dan Kunci Jawabannya
Blog, Updated at: Sunday, November 13, 2011

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2010 ~ 2014 Sharing Informasi. All Rights Reserved. New Johny Wuss Template by CB Blogger - Original Theme by Mastemplate